NARKOTIKA

NARKOTIKA

     DISUSUN OLEH

NINA APRIDINA,Amd,AFM.

                                         RUMAH SEHAT INDONESIA

 PEKANBARU

                                                           2011

———————————————————————————

BAB  I

                 PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Narkotika tetap menjadi masalah serius di belahan dunia manapun, dinegara miskin, negara berkembang bahkan di negara maju. Banyak kasus narkoba yang susah diselesaikan, untuk melakukan pencegahan narkoba kita harus memulai dari diri kita sendiri.

Maka dari itu perlu adanya pembentengan diri, baik untuk diri kita sendiri,keluarga, maupun lingkungan sekitar kita. Dalam hal ini pemerintah juga tengah gencar-gencar nya mengkampanyekan dampak atau bahaya yg ditimbulkan dari penggunaan Narkotika, kusus nya pada generasi muda pada zaman modern seperti sekarang ini.

Bentuk keseriusan pemerintah dalam menangani permasalahan narkotika,juga dapat kita lihat dalam Undang-undang Republik Indonesia No 22 tahun 1997. Tentang NARKOTIKA.

Namun demikian bukan berarti kita tidak perlu mengetahui apa-apa saja yg menyangkut tentang narkotika,baik dari segi defenisi  narkotika itu sendiri,pembagian jenis nya,serta semua yang  menyangkut  tentang  narkotika itu sendiri.

,

Walaupun begitu, setiap  kehidupan  memiliki  dua sisi mata uang. Di balik dampak  negatif, narkotika juga memberikan dampak yang positif. Jika digunakan sebagaimana mestinya, terutama untuk  menyelamatkan  jiwa  manusia  dan  membantu  dalam  pengobatan, narkotika memberikan  manfaat  bagi  kehidupan  manusia.

Kewaspadaan  harus  tetap  kita  lakukan  agar  efek negatif  yang  ditimbulkan  oleh narkotika  tidak  menjadi  bumerang  dalam  tubuh  kita.

.

1.2    Tujuan

a   Mengetahui  defenisi  tentang  narkotika

b   Mengetahui  jenis-jenis  narkotika  tersebut

c   Mengetahui  dampak positif, berdasarkan  jenis  narkotika

d   Mengetahui  dampak  negatif  narkotika  secara umum

e   Mengetahui  Undang-undang  tentang narkotika, dari segi  peredaran nya, penyerahan nya, penyimpanan nya, pelaporan, serta  pemusnahan  narkotika

BAB  II

PEMBAHASAN

 

2.1  Defensi  Narkotika

Narkotika  adalah  zat  atau  obat  yang  berasal   dari tanaman   atau bukan  tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis. Zat tersebut  menyebabkan  penurunan  atau  perubahan kesadaran, menghilangkan rasa, mengurangi  hingga  menghilangkan  rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (adiktif).”

2.2   Macam- macam Narkotika

Macam-macam narkotika

  1. Opioid
    Bahan opioid adalah saripati bunga opium. Zat yang termasuk kelompok opioid antara lain:
    • Heroin, disebut juga diamorfin bisa ditemukan dalam bentuk pil, serbuk, dan cairan.
    • Codein, biasanya  dijual  dalam   bentuk pil atau cairan  bening
    • Comerol, sama dengan codein biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan bening
    • Putaw
  2. Kokain
    Kokain merupakan alkaloid yang berasal dari tanaman Erythroxylon coca. Jenis tanamannya   berbentuk belukar. Zat ini berasal dari negara  Peru dan Bolivia.
  1. Ganja
    Ganja merupakan tumbuhan penghasil serat. Akan tetapi, tumbuhan ini lebih dikenal karena kandungan narkotikanya, yaitu tetrahidrokanabinol (THC). Semua bagian tanaman  ganja mengandung kanaboid psikoaktif.

2.3  Dampak negatif penggunaan Narkotika

Menurut definisi di atas, jelaslah bahwa narkotika, jika disalah gunakan, sangat membahayakan  bagi  kesehatan fisik dan mental manusia. Bahkan, pada pemakaian dengan dosis berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dosis (OD) bisa mengakibatkan kematian. Namun sayang sekali, walaupun sudah tahu zat tersebut sangat berbahaya, masih saja ada orang-orang  yang menyalah gunakannya.

2.4 Dampak  positif  penggunaan  Narkotika  bagi  kehidupan  manusia.

Berikut dampak  positif narkotika:

  1. Opioid
    Opioid atau opium digunakan selama berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit dan untuk mencegah batuk dan diare.
  2. Kokain
    Daun tanaman Erythroxylon coca biasanya dikunyah-kunyah untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk meningkatkan daya tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.
  3. Ganja (ganja/cimeng)
    Orang-orang terdahulu menggunakan tanaman ganja untuk bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya sangat kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.

2.5 Undang-undang  Tentang  Narkotika

2.5.1  Peredaran Narkotika

a  Importir

b  Industri

c  Pedagang  Besar  Farmasi.

d Sarana  penyimpanan  pemerintah(Rumah sakit / Puskesmas ) .

2.5.2  Penyerahan Narkotika.

Penyerahan narkotika hanya dapat dilakukan oleh:

a  Apotek.

b  Rumah sakit.

c  Puskesmas.

d  Dokter ( dalam hal tertentu saja).

2.5.3  Penyimpanan  narkotika

Penyimpanan  narkotika  hanya  boleh  disimpan  pada:

a  PBF.

b  Importir.

c  Apotek.

d  Rumah sakit.

e  Puskesmas.

2.5.4  Pelaporan narkotika.

Pelaporan  narkotika  pada  sarana-sarana  yang  menyalurkan  narkotika.

a  Apotek (Laporan dibuat  1xsebulan).

b  PBF ( Laporan dibuat 3 bulan sekali).

2.5.5   Pemusnahan narkotika.

a  Importir , dan Industri   Pemusnahan  dilakukan  di  Direktorat  POM.

b  PBF  Pemusnahan  dilakukan  di Depkes  Provinsi  setempat.

c  Apotek , Puskesmas /Rumah  sakit dan   Dokter  di Dinkes  Tingkat dua.

BAB  III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Dari  seluruh  Pembahasan  pada  makalah diatas,  dapat disimpulkan  bahawa ,narkotika  merupakan  zat yang  sangat  berbahaya  jika  disalah  gunakan  pemakaian nya,akan  tetapi  selain  memiliki  dampak  negatif  , narkotika  juga  bisa  memiliki  dampak  yang  positif,  terutama  pada  tubuh  kita  tentunya  dengan  dosis yang  tepat  .

Dan terkait  dengan  itu semua  pemerintah  juga  menetapkan  Undang-undang  tentang narkotika, baik  dari  segi, peredaran  nya, penyerahan, penyimpanan, pelaporan  narkotika, serta  pemusnahan  nya  semua  telah  diatur  dalam  Undang-Undang  Republik  Indonesia  No 22 Tahun 1997.

3.2  Saran

Untuk  mengurangi  dampak  negatif  dari  penggunaan  narkotika, dalam  kehidupan  kita sehari-hari  maupun  bermasyarakat  hendak  nya  kita semua  bias  lebih  berhati-hati  terutama dengan  lingkungan  sekitar kita, dan  perlu nya  pengetahuan tentang  bahaya  penggunaan narkotika , serta  membentengi  diri  dengan  keimanan  dan  ketakwaan  kita pada  Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Resep Teori.Departemen Kesehatan RI.

Elka Yuslinda,S.Si,APT,Jenny Susantri,S.FARM,APT,dan Siti Hazaral Aswad,AMAF.2004.Penuntun Praktikum Analisa Obat dan Narkoba II.

http://lintasberita-ta.blogspot.com/2010/04/pengertian-narkotika.html

Peran Bidan Sebagai Konselor KB

By: Midwife_Amelia Susanti

Work at : Rumah Bersalin Gratiis (RBG) Rumah Zakat cabang Pekanbaru


                                               PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

    Alat kontrasepsi atau KB tidak asing lagi di tengah – tangah masyarakat. Dimana lebih dari 120 juta perempuan di seluruh dunia ingin mencegah kehamilannya. Walaupun kontrasepsi tidak asing lagi ditengah – tengah masyarakat namun masih ada pasangan yang tidak memilih menggunakan alat kontrasepsi.

Alasan dari masyarakat yang tidak berKB dikarenakan pelayanan atau alat belum tersedia atau terbatas di suatu daerah, kekhawatiran akan efek sampingnya, kondisi kesehatan, kurangnya pengetahuan tentang pilihan dan penggunaan kontrasepsi.

Program KB secara Nasional berkaitan erat dengan program Nasional di bidang kesehatan, karena program KB Nasional bersifat mendukung dan mempunyai sasaran serupa dengan program kesehatan. Program Keluarga Berencana Nasional memberikan arahan kebijakan untuk meningkatkan kualitas penduduk melalui pegendalian kelahiran, memperkecil angka kematian dan peningkatan kualitas program KB.

Di Indonesia sejak zaman dulu telah dipakai obat dan jamu yang maksudnya untuk mencegah kehamilan. Di Indonesia keluarga berencana modren mulai dikenal pada tahun 1953.

Kontrasepsi yang ideal hingga sekarang belum diketahui, dikarenakan kontrasepsi yang ideal itu harus memenuhi syarat – syarat seperti dapat dipercaya, tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan, daya kerja dapat diatur sesuai kebutuhan.

Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam memberikan informasi tentang metode KB calon akseptor yang dalam hal ini khusus ibu hamil, bersalin dan nifas. Pemberian informasi ini dilakukan melalui konseling dengan menggunakan alat bantu pengambilan keputusan (ABPK) berKB. ABPK adalah lembar balik yang dikembangkan WHO dan telah diadaptasi untuk Indonesia oleh STARH untuk digunakan dalam konseling.

Disini tenaga kesehatan yang memegang peran adalah bidan. Bidan melakukan itu sesuai dengan perannya. Dalam memberikan pelayanan bidan melakukannya secara professional dan sesuai standar.

Peran bidan sebagai konselor KB pasca persalinan bertujuan agar masyarakat khususnya ibu setelah melahirkan tidak bingung mengenai pemakaian KB setelah persalinan. Masih banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena keterbatasan metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut.

Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Untuk itu semua, konseling merupakan bagian integral yang sangat penting dalam pelayanan keluarga berencana.

1.2 Tujuan

  1. Menyelesaikan tugas dari lembaga
  2. Masyarakat lebih memahami tentang KB
  3. Agar bidan lebih mengetahui akan perannya
  4. Meningkatkan angka penggunaan dan penerimaan kontrasepsi
  5. Meningkatkan kualitas SDM

1.3 Manfaat

  1. Agar karyawan lembaga mengetahui tentang Alat Kontrasepsi
  2. Agar pengguna kontrasepsi dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai untuk

dirinya dan keinginannya

  1. Bidan akan melaksanakan perannya dengan sebagai mana mestinya

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Konseling adalah bentuk wawancara untuk membantu orang lain memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai dirinya, termasuk keinginan, sikap, kecemasan dalam usahanya untuk memahami permasalahan yang sedang dihadapinya.

Kontrasepsi merupakan usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Dimana usaha tersebut dapat bersifat sementara maupun permanen. Alat kontrasepsi tidak hanya digunakan oleh perempuan saja namun pria juga mempunyai alat kontrasepsi tersendiri.

Peran bidan merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang bidan dalam berperan sebagai bidan yang profesional. Dalam profesinya bidan memiliki berbagai peran yaitu sebagai pelaksana, pengelola, pendidik dan peneliti.

Sebagai pelaksana bidan memiliki tiga kategori tugas yaitu tugas mandiri. tugas kolaborasi, dan tugas ketergantungan.

2.2    Pilihan kontrasepsi pascapersalinan

  1. MOW

MOW merupakan kontrasepsi mantap untuk wanita melalui operasi. MOW untuk wanita dinamai tubektomi yaitu tindakan yang dilakukan pada kedua tuba Fallopii wanita. Waktu pemasangan MOW ibu pasca persalinan dapat digunakan pada hari ke- 6 sampai ke- 13 siklus haid. Sedangkan pada pria dinamai vasektomi dan dapat dilakukan kapan saja.

  1. AKDR

Alat kontrasepsi dengan cara memasukkan suatu benda kedalam uterus dengan tujuan mencegah kehamilan. IUD yang telah terpasang akan mengeluarkan hormone progesteron sehingga dapat menghalangi sperma dalam usahanya untuk memasuki cervix dan uterus. Waktu pemasangan IUD pasca persalinan pada 42 hari setelah persalinan.

  1. Implan

Implan merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan atau disusukkan dibawah kulit lengan kiri ibu. Waktu Pemasangan pasca persalinan yaitu paling cepat digunakan 1 minggu pasca persalinan.

  1. Suntik

KB suntik yang dapat diberikan pada ibu pasca persalinan dan menyusui yaitu suntik 3 bulan atau yang mengandung progesterone saja. Waktu pemasangannya dapat digunakan 7 hari pasca persalinan.

  1. Minipil

Alat kontrasepsi ini dapat digunakan segera minimal 3 hari pasca persalinan.

  1. Kondom

Dapat digunakan setiap waktu. Cara kerja kondom adalah menampung spermatozoa sehingga tidak masuk kedalam kanalis servikalis. Keuntungan kondom murah, mudah didapat, tidak perlu pengawasan medis. Kerugiannya kenikmatan terganggu, alergi.

2.3  Peran  bidan sebagai konselor Keluarga Berencana

Bidan merupakan satu profesi tertua didunia sejak adanya peradaban umat manusia. Peran dan posisi bidan dimasyarakat sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya sangat mulia, memberi semangat, mendampingi serta menolong ibu yang akan melahirkan.

Bidan sebagai konselor memiliki kemampuan teknik konseling, pengetahuan tentang alat kontrasepsi dan yang berkaitan dengan pemakaiannya.

Calon pemakai kontrasepsi untuk menggunakan salah satu alat KB adalah pilihan calon sendiri, setelah mereka memahami manfaat dari setiap alat kontrasepsi. Dan pemilihan alat kontrasepsi oleh bidan dan keluarganya merupakan hak calon dan keluarganya untuk dapat merencanakan dengan baik tentang pengaturan kelahiran mereka.

Salah satu tugas mandiri bidan yaitu memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana dimana mencakup :

  1. Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada PUS
  2. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan
  3. Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah bersama klien
  4. Melaksanakan asuhan sesuai dengan rencana yang telah dibuat
  5. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan
  6. Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama
  7. Membuat pencatan dan pelaporan

Bidan yang telah memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang kebidanan khususnya akan dapat berperan sebagai konselor, salah satunya konselor KB. Dalam tugasnya sebagai konselor KB, bidan memberikan peyuluhan pertama tentang pemanfaatan kontrasepsi kemudian menjelsakan macam – macam alkon serta keutungan dan kerugian dari masing-masing KB.

Peran bidan sebagai konselor keluarga berencana ini tidak hanya diperuntukan untuk wanita saja tapi pria juga. Dikarenakan alat kontrasepsi tidak hanya digunakan oleh wanita saja namun pria juga mempunyai alat kontrasepsi tersendiri.

Konseling keluarga berencana pascapersalinan yang diberikan oleh bidan tidak hanya diberikan pada ibu sendiri tapi pada saat berlangsungnya konseling diikuti oleh suami istri.

2.4  Sistem Pelayanan KB

Dalam memberikan pelayanan KB bidan harus dapat memenuhi hal – hal tertentu agar pelayanan yang diberikan dapat optimal.

Hal-hal yang harus dipenuhi :

  1. Pelayanan harus dilakukan sesuai standar
  2. Terpadu dengan komponen kespro lainnya
  3. SDM, sarana dan prasarana sesuai ketentuan
  4. Dokumentasi tindakan
  5. Monitoring dan evaluasi

Bidan sebagai konselor hendaknya memiliki pribadi :

  1. Minat untuk menolong orang lain
  2. Mampu untuk empati
  3. Mampu untuk menjadi pendengar yang baik dan aktif
  4. Mempunyai daya pengamat yang tajam
  5. Terbuka terhadap pendapat orang lain
  6. Mampu mengenali hambatan psikologis, social dan budaya

Setiap pelayanan profesi yang diberikan bidan harus selalu memberikan kesempatan pasien untuk memilih ( informedchoice ) dan memberi persetujuan ( informed concent ).  Dalam pelayanan KB hal ini tetap berlaku karena bidan harus menjelaskan keuntungan dan kerugian setiap jenis alkon dengan jujur dan netral, tidak memaksakan suatu metode kontrasepsi tertentu.

2.5  Langkah-langkah konseling KB

Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien KB yang baru bidan hendaknya dapat menerapkan enam langkah yang sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien.

Kata kunci dari SATU TUJU adalah sbb:

  • SA : SAlam dan SApa kepada klien secara terbuka dan sopan.
  •   : Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya.
  • U : Uraikan kepada klien mengenai pilihannya termasuk beberapa jenis kontrasepsi.
  • TU : banTU klien menentukan pilihan.
  •   J    : Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya.
  • U    : perlunya dilakukan kunjungan Ulang.

 

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Peran bidan sebagai konselor KB pasca persalinan bertujuan agar masyarakat khususnya ibu setelah melahirkan tidak bingung mengenai pemakaian KB setelah persalinan. Masih banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena keterbatasan metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut.

3.2 Saran

Sebagai bidan agar dapat lebih meningkatkan pengetahuan tentang KB serta lebih memahami akan peran sebagai konselor, yang dalam makalah ini sebagai konselor keluarga berencana.

Selanjutnya agar masyarakat khususnya ibu-ibu dapat mengetahui tentang jenis KB dan jenis KB yang dapat digunakan setelah melahirkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

      Manuaba, I. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

      Soepardan, S. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

      Verallis, S. 1997. Anatomi dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan. Jakarta : EGC

      Wiknjosastro, H. 2005.  Ilmu Kandungan. Jakarta :  Yayasan Bina Pustaka

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.